Pelangi Hitam Putih

Petang lupa ada berapa juta, atau berapa miliar gradasi warna yang ada di muka bumi.

Petang telah larut dalam arus kesibukan mengategorikan ini-itu menjadi hitam-putih, kadang abu-abu, tapi jarang sekali. Hingga ia kelabakan saat diberi tebakan oleh seorang anak TK, “Warna apa setelah nila dalam susunan pelangi?”

Karena dalam dunia Petang pelanginya berwarna hitam dan putih.

Sampai suatu ketika ia bertemu sosok jangkung berpakaian serba hitam yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Maut.

“Oh sudah saatnya bertandang ke dunia abadi,” tukas Petang.

Maut hanya tersenyum.

Tapi, jika dunia abadi identik dengan hitam serupa pakaian yang dikenakan Maut, apakah dunia fana yang selama ini ditinggali Petang adalah dunia yang putih?

Ah … sudahlah, lagi pula ia akan mati. Untuk apa masih menyibukkan diri memilah mana hitam mana putih? Petang merutuki kebiasaan lamanya dalam hati.

“Tak apa, aku bisa menunggu,” tukas Maut.

Tentu bukan sebuah tanggapan yang ia perkirakan akan datang dari seorang Maut, namun Petang balas tersenyum sopan sebisa yang dapat dilakukan oleh seseorang yang akan segera merenggang nyawa.

“Tak apa, aku sendiri sudah lelah,” balas Petang dengan nada serupa sepasukan semut yang baru menggotong kepala kecoak ke sarang mereka.

“Oh, sungguh?” Maut balas bertanya, sembari mendudukkan diri di tepi gedung pencakar langit. Kakinya mengayun bebas.

Petang terdiam, namun alisnya berbicara lewat satu gerakan yang berarti, apa maksud pertanyaanmu, Maut?

Satu sapuan angin kencang menerbangkan tudung yang mulanya menutupi wajah dan rambut Maut. Kini tampaklah raut wajah pria tua penuh keriput dengan rambut keperakan yang tengah duduk bersantai di tepi gedung pencakar langit. Entah Maut tidak mengidap akrofobia, atau karena memang tidak ada nyawa yang perlu ia cemaskan jika terjerembap dari ketinggian lantai lima puluh, ia tampak menikmati senja dengan khidmat dari ketinggian.

“Usiamu baru 29 tahun, Petang. Katakanlah, apa saja yang telah kau perbuat hingga merasa pantas untuk berbicara layaknya gladiator unggulan pembasmi raja hutan? Karena dulu sekali, saat aku mencabut nyawa seorang gladiator di dekat gunung Vesuvius, ia bahkan tidak punya nada selelah milikmu. Ia justru menyambutku dengan tegap dan tegar, seperti tidak punya kata lelah dalam kamusnya.”

Petang menggaruk bagian belakang kepalanya yang mendadak gatal karena rasa gugup.

Apa jasanya? Apa yang sudah ia lakukan? Apa yang pernah ia perjuangkan?

Tidak ada satu pun jawaban yang ia temukan. Bahkan satu petunjuk pun nihil.

“Aku menciptakan pelangi hitam putih,” jawab Petang asal.

Tanpa diduga Maut mengangguk mengapresiasi. Pandangannya terfokus pada sesuatu yang jauh di ujung lanskap.

“Dan apakah menurutmu pelangi hitam putih lebih baik dari yang sudah ada?” tanya Maut setelah sepersekian detik.

Ya. Ingin Petang menjawab demikian, namun yang keluar darinya justru, “Sebisanya aku menjadikan itu lebih baik. Karena jika tidak, untuk apa kuperjuangkan?”

Pertanyaan retoris, dan Maut berdeham seiring dengan irama angin.

“Atau kau takut gagal hingga memilih memperjuangkan sebisamu.” Sebuah gumaman dari Maut menarik Petang berjalan mendekat dan duduk di sisinya. “Masih adakah kosakata maksimal atau bahkan bersungguh-sungguh dalam kamusmu, Petang?”

Yang kemudian dijawab dengan gelengan kepala.

“Sudah berapa lama?” tanya Maut lagi.

“Lama sekali sampai kurasa ini pertama kalinya aku mendengar kata itu lagi.”

“Petang, kau hanya mengabaikan, bukan melupakan.” Dari sudut mata Maut melirik Petang.

“Lihat di bawah sana,” tunjuk Maut pada sekelompok pegawai di halte bus yang serupa titik hitam dan putih.

“Dan perhatikan mereka,” kini Maut mengalihkan telunjuknya pada sebaris pemuda pemudi berpakaian rapi yang membawa map warna-warni di seberang halte bus. Baru pulang melamar pekerjaan rupanya. “Hanya karena kau pernah jadi bagian mereka, tapi tidak pernah menyeberang ke sisi jalan yang satunya, bukan berarti dunia berakhir.”

Lalu apa? Pak tua ini ingin aku menyeberang jalan? Tanya Petang dalam hati.

“Dan coba lihat itu,” Maut mengabaikan raut bingung Petang yang ia yakin akan segera sirna dengan menunjuk sebuah percetakan. “Menurutmu mereka hebat? Mencetak berita lewat lembaran hitam putih yang tak jelas akurasinya, demi membakar opini publik di tengah teriknya jalan raya?”

“Bagaimana dengan mereka?” Maut menunjuk perpustakaan di sebelah gedung percetakan. Suasanya luar biasa kontras. “Mereka memberi fakta, namun apa yang mereka dapatkan selain debu? Oh ya, mereka dapat jejak sol sepatu becek berlumpur yang berteduh kala hujan datang tiba-tiba. Selebihnya tidak ada.”

Um, dan sekarang ia ingin aku jadi anggota perpustakaan, bukannya berlangganan koran seribuan? Pergumulan lain timbul dalam benak Petang.

“Aku hanya ingin kau mengingat ada banyak warna dalam pelangi, Petang. Mejikuhibiniu. Ingatlah itu dan jangan lagi diam saat ditanya anak TK, karena itu juga membuatku malu luar biasa.”

“Merah untuk keberanian, jingga untuk perubahan, kuning untuk semangat, hijau untuk kebaikan, biru untuk kedamaian, nila untuk pembaharuan, dan ungu untuk kebersamaan. Itu pengertianku, kau sendiri bebas mengartikan merah sebagai peringatan atau biru sebagai jalur aman. Dunia ini bebas dan luas, kau boleh menandai wilayahmu sendiri.

“Lagi pula dunia ini punya terlampau banyak warna untuk kau abaikan, Petang.”

“Terima kasih banyak, tapi aku yakin kau datang ke sini bukan sekedar untuk berceramah, bukan?”

“Kenapa tidak? Aku memang tidak punya banyak waktu untuk berjemur di pantai, tapi ada banyak kemungkinan yang terjadi di muka bumi.” Pak tua di sisi Petang beranjak, “Dan kenapa kau tidak memperhitungkan kemungkinan seorang malaikat datang selain maut untukmu, Petang? Salah satunya mungkin …  Tuhan meragukan akurasi jawabanmu saat ditanyai di Padang Pengadilan soal keputusanmu selama di dunia, karena bahkan ditanya warna apa setelah nila saja kau tidak mampu?”

Ketika jubah hitam ditanggalkan, Petang berani bersumpah pakaian pak tua dihadapannya terbuat dari cahaya yang lebih menyilaukan dari LED flash motor matik miliknya.

Fin.

VON’s Notes:

Pelangi Hitam Putih dimaksudkan untuk menggambarkan kepenatan akan rasa tidak puas, kemarahan, kekesalan, rasa muak, dan segala hal negatif lainnya berkaitan dengan hubungan sosial yang melibatkan senior, junior, kawan seperjuangan, keluarga, bahkan pergumulan akan diri sendiri.

Hingga sang tokoh (Petang) memutuskan untuk menyederhanakan sekat emosi menjadi hitam-putih, menjadi suka-tidak suka, bahagia-tidak bahagia, mengabaikan kontras yang membedakan antara benci, kesal, marah, bersalah, tersinggung, terluka, menjadi sekedar perasaan tidak menyenangkan. Begitu pula dengan pengabaian terhadap kasta senang, bahagia, bersyukur, harapan, dan semangat, menjadi satu kesatuan perasaan menyenangkan. Semata karena sudah lelah, semata karena suara-suara dalam kepala terlampau berisik, hingga dengan begini kedamaian bisa didapatkan kembali.

Yang salah adalah, akibat dari kenyamanan instan tersebut Petang menjadi abai dan tidak lagi peduli akan kejadian yang terjadi dengan sekitar dan dirinya sendiri. Ia mengabaikan sakit untuk bergelung dengan senang, bukannya mencari cara untuk sembuh, melainkan memulai jalinan benang baru tanpa sebelumnya mengurai benang yang kusut. Tidak lagi ada perjuangan, tidak lagi ada kepercayaan, tidak lagi ada namanya bermanfaat bagi sesama.

Petang sekedar menjalani kehidupan sembari menunggu kematian tanpa memberi makna lebih, dengan cara mematikan rasa dari  dalam. Sampai saatnya ia bertemu Titik Balik (yang saya asosiasikan dengan rahmat Tuhan atau hidayah) yang menyamar menjadi Titik Akhir (atau biasa disebut Maut) untuk menarik perhatian Petang.

Karya di atas ditulis saat saya berada dalam titik puncak badmood. Diedit ketika sudah merasa baikan, maka jika ada pergeseran makna atau inkonsistensi, please kindly tell me, thank you so much.

 

Advertisements

9 Comments

    1. duh.
      aa.

      Seriusan kakpang, aku engga tau mau bilang apa. ini beneran nyentil pembaca banget. Apalagi dengan kondisi sosial manusia di muka bumi sekarang. aku suka konversasi antara petang dan maut. Gimana mau yang ngejelasin sambil ngasih tau beberapa contoh yg tbh buat aku jadi mikir, selama ini aku udah ngapain aja? buat pribadi-pribadi yg hampir sama dengan perang pasti bisa relate banget. kita sendiri yang membatasi diri kita. Setuju kata kakpang, alih-alih sakit, bukannya mencari cara gimana sembuh kita lebih sering yang marah sama diri sendiri. seriusan aku beneran engga tau lagi mau bilang apa lagi kak. Percayalah, sebelum ke komen box aku sampai yang mandangin layar HP semenit dulu baru bisa mutusin mau komentar apa /walaupun ujung-ujungnya aku ngomen receh gini kak, maafkeun/
      Ide petang-maut ini seriusan indah banget kakpang. Aku bahagya pokoknya, self reminder banget. Dan yeah, ending yang engga biasa udah kakpang jagonya. pas baca LED aku yang senyum lepas banget kak hehehehe pokoknya aku sukaaaaaaaaaa.

      Kakpang, semangat selalu yaaa. Big love from me ({}) ❤❤❤

      1. HALO, HALOO, HAAAAAAAAAAAAALOOOO VANAAAA!!! ❤

        Pertama, aku nulis ini sebagai stress reliever. Kedua, tujuannya adalah buat self-reminder kalo-kalo aku lagi doyan lari lagi dari masalah, bahwa aku pernah lari tapi masalahku ngga selesai, dan justru aku dapat pelangi hitam-putih, bukan mejikuhibiniu seperti ketika kalau aku berani dealing with the problems. Ketiga, aku lega bisa menyelesaikan tulisan yang sebenarnya plotless tapi urgency untuk menyampaikan: ini loh, kalo kita berani mati coba direview lagi apakah kita benar-benar sudah siap sekalian dengan pertanggung jawabannya, atau sekadar males hidup. Nah kalau gitu apa nanti ngga malu di hadapan Tuhan yang sudah memberi kita kepercayaan untuk hidup? Sesederhana itu ….

        Dan setelah baca jejak Vana aku jadi merasa dapat bonus, ah ternyata tulisannya masih terbaca, dalam artian masih bisa menyampaikan pesan yang mau aku tulis di atas ehehehee. Bahagia? Iya. Pake Banget! ❤ ❤

        Semangat terus juga untuk Vana!!! Mari menjadi pribadi yang lebih baiiikkk ❤ ❤ ❤

  1. KAK FILZAAAA! 😸

    Kangen baca tulisan kak filza yang agak dark tapi masih fun gitu buat dibaca, kayak ini tiba-tiba endingnya malah jadi LED motor 😂 terus perumpamaan-perumpamaan di sini, soal jenuh dan lain-lain, memang kak filza terbaik ya kepikira aja buat nulis kayak gini 👏👏 terus suka sama pembawaan karakter senja, kerasa banget dia lelah dan muaknya.

    Keep making something nice and have a nice day kak! ❤️

    1. TARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII LONG TIME NO SEEEEEEEEEEEEEE!!! ((internal scream bikos ada kucing awwww))
      Iya ih kakeknya iseng bawa-bawa LED motor … tau aja cicilan Petang belum lunas :’

      Semoga kita sama-sama menjadi semakin baik dari hari ke hari ya, Tareeeh~ Salam superman, spiderman, ironman! ❤

  2. KAK FILZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ YOU GOT SOME DEEP PHILOSOPHICAL THOUGHTS HERE AAAAAAAAAAA SO DEEEP SEDALAM PALUNG MARINA!

    setuju setuju! dunia ini nggak hanya terbagi antara hitam dan putih, tapi banyak sekali warna. banyak perspektif yang bisa diambil selain “oh, A salah dan B benar” no no. suatu perilaku bisa menjadi salah di mata seseorang, tapi bisa menjadi benar di mata orang lain. kemungkinan itu banyak dan seperti yang udah dibilang si maut: kita nggak bisa mengotakkan pikiran menjadi apa yang begitu absolut, apalagi ekstremnya kayak petang di sini yang udah terlihat betul-betul fed up dengan berbagai macam pandangan di masyarakat.

    aku mau cerita, aku mau cerita. aku seringggggggg banget debatin hal ini sama temenku: tentang usaha seseorang untuk mencapai tujuan (dan bisa dibilang sakit untuk menuju senang, kalau dalam tulisan kakak). nah, salah satunya topik paling sering kita angkat adalah gimana dia ingkar sama aku (dan inner cirlce-ku). di sma dia bilang dia bakal a b c d e f g, tapi kenyataannya pas kuliah dia berubah jadi perokok berat, sering bolos kelas di kampusnya, dan dia bilang “gue kuliah nggak cari pengetahuan akademis, tapi koneksi” yang menurut idealismenya dia bener, tapi menurutku salah bcs: dia bisa aja mendapatkan koneksi dengan cara yang lebih baik, lebih seimbang, nggak perlu sebegitunya.

    he then said, “nggak semua yang lo anggep bener, bener vin. baik-buruk relatif. bahkan masyarakat ini relatif; jangan ngikutin prinsip yang dibangun mayoritas.” aku bilang aku setuju sama dia, cuma menurutku dialah yang ngikutin mayoritas untuk mengambil cara instan dalam mendapatkan tujuannya. ada opsi lain yang bisa diambil dan dia menutup diri untuk berusaha lebih keras. ditambah lagi, di akhir-akhir ini, ternyata usahanya gagal dan dia merutuki hasil bukan dari dalam diri, tapi nyalahin ke luar, which is perwujudan dari simbolisasi pelangi hitam di sini menurutku. not that aku kemudian bilang “tuh kan, i told you so” terhadap pandangan dan usaha dia, karena sesungguhnya di beberapa hal dia betul juga: dia harus beradaptasi dengan lingkungan yang demikian biar dapet simpati bcs in this world, people love similarities. tapi somehow… gimana ya. bahkan dalam kegagalan dia pun, dia harusnya bisa melihat berbagai perspektif. what i mean is: bahkan di saat sepeti itu pun dia punya banyak warna. misal ungu untuk refleksi: kesalahan yang merujuk pada kegagalan. atau abu-abu buat stereotip yang ada dalam masyarakat terhadap status dia sebagai minoritas yang kemudian “kurang bisa diandalkan”. atau merah buat perjuangan dia yang bela-belain all out bahkan sampai mempertaruhkan kesehatannya sendiri. kuning, buat joy yang dia rasakan (mungkin) ketika dia mikirin konsep selama ini dan seluruh ekspektasi dia. hitam untuk penghianatan mungkin karena ternyata konsep dia dipake, tapi dia ga bisa ngambil jabatan yang dimau. hijau buat kepastian yang dia dapet setelah terombang-ambing segala macem.

    banyak perasaan, banyak perspektif yang bisa diambil dari suatu peristiwa. banyak skenario yang bisa dimainkan oleh banyak orang. dan itu yang biasanya dilupakan oleh manusia. what i really crave, what i really love, what i really adore from your work kak filz, adalah gimana kakak bisa menyentil hal tersebut sehingga disadari oleh pembaca kakak. membuat mereka berpikir kalau “ahhhhh, nggak bisa kita cuma ngeliat satu perspektif selama hidup” karena pengalaman itu kaya. dan i trust what you mean is that we can learn from every aspects of our experiences. kayak si perpustakaan yang berilmu dan memberi ilmu, tapi di sisi lain menjenuhkan dan dilupakan. atau si jurnalis yang memberikan informasi, tapi bisa jadi membohongi publik. orang yang ngelamar kerja: dengan segala harapan dan keinginan, tapi bisa pupus, tapi mereka harus bangun lagi karena kalo enggak mereka bakal stuck… menunggu kematian… lelah dengan kehidupan… kayak petang.

    HADUH KOMENKU SAMPAH SEKALI.

    aku nda ada komentar buat penulisan karena buatku ini brilliantly genius buat membawa topik seperti ini, kak filz. sangat menampar dan sangat deep. kusuka kusuka kusuka kusuka lebih dari kripik kusuka! 21312456374538716352765326753761253 kali suka! maafkan rambling di atas pake cerita tentang temenku segala lagi wgwg keep writingggggggggg! me loves u 4ever and ever! ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

    1. Satu-satu, aku sayang Evin
      Dua-dua, aku respect Evin
      Tiga-tiga, aku admire Evin
      SATU DUA TIGA AKU MAU PELUK EVIIIIIIIIIIIIIIIN ❤

      Cara Evin menyampaikan itu jadi bikin aku shock, literally, like astaganagabonar aku nulis apa ini? Sampai Evin bales tiga paragraf dan waw, jika benar ini related dengan yang dihadapi orang lain (ngga cuma aku), semoga benar-benar bisa jadi berguna tulisannya dan menggugah ke arah yang lebih baik. Karena oh karena waktu dan benang kita ngga ada yang tau XD enak-enak ngegulung benang tau-tau abis tadaah~ say hello to Bang Maut, Dek~ Welkam to underworld! The end yha.

      Tbh, aku juga punya temen yang mindsetnya tau-tau aja berubah dan aku antara mau bilang 'I told you so' sama 'Ayo dong dipikirin lagi'. Tapi aku kembali lagi ke anaknya, dia ambil keputusan tersebut pasti ada sebabnya, dan bedanya dengan teman Evin, temanku ngga ada niatan untuk berbagi sebab atau mindset dia yang baru, pokok dia PD hayuklah banting setir. Jadi aku di sini cuma bisa oke, kalau itu jalanmu, ini jalanku, semoga di akhir kita sama-sama sukses. Udah itu aja. Padahal kan kalo kita temenan sebenernya ngga sesederhana itu. Intervensi diperbolehkan, selama untuk kebaikan. Nah perkara kebaikan ini kan kembali lagi ke soal perspektif yha yang rumitnya minta ampun, kaya segi seratus. Menurutku dia baiknya menyelesaikan dulu apa yang dia mulai, lalu perkara selanjutnya beda ya silahkan. Tapi menurut dia, kalau dia ngga berubah sekarang, dia wasting time. Ya ya ya gimana ya, sudah beda arah pandang, mau disamakan juga ngga bisa kecuali ada yang mau ngalah. Intinya aku sekarang cuma bisa oh yaudah selama dia masih punya semangat, semoga apa yang dia perjuangkan itu bener (mungkin ada sisi yang aku belum tau, dan dia tau, lalu menurutnya itu lebih potensial, semacam itu).

      Well, senggaknya temenku lebih punya semangat dibanding Petang yang kena gencet keadaan sosial sudah lelah dan merajuk pura-pura buta warna HAHAHAHA ❤ DAN OHIYAH! Semoga temennya Evin juga ngga patah semangattttt!!!

  3. Kak filza aku pingin mbrabak bacanya 😭😭😭 maaf kak aku nggak bisa komen apa-apa tapi cuma mau menyampaikan kalau ini sangat sangat sangat menjotos diriku sendiri dan seperti komen sebelumnya istilah kerennya … reminder gitu :”) dan apalagi setelah baca komenan kak filza sama evin di atas itu semakin memperjelas maknanya dan aku lega Petang masih punya harapan sekaligus hidayah atau istilahnya kesempatan kedua buat refleksi karena ternyata yang dateng Malaikat bukannya Maut :”)

    Kak filza jangan badmood-badmood mana yang bikin kak filza badmood sini tak piting biar ketemu maut kak filz stay healthy :”””””””””)))

    1. AAAAAAAAA BELLA SO SO SO KYUT LYKE A CINNAMON ROLL!!! JANGAN PITING-PITINGAN NANTI JADI KEPITING AYO KITA PELUKAN SAJAAAA 😀 BIAR MAKIN GOODMOOD YHA

      Badai pasti berlalu, setelah badmood pasti goodmood ((insert gif. Matahari Teletabisss))

      Terima kasih banyak Bella untuk support dan piting-pitingannya HAHAHAHA mari kita piting badmood biar ga balik biar kapok ulululuuu~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s